http://sambak-q.blogspot.com/ http://renunganku-spiritku.blogspot.com/
oOnPizz
 
Tim-tim yang berguguran di Piala Dunia 2010 harus angkat koper lebih cepat. Mereka membawa duka meski ada yang tetap disambut sebagai pahlawan. Inilah sambutan dari tim-tim yang gagal saat kembali ke negaranya. Nigeria: Lebih Dari Sekadar Pertandingan Kabar buruk bagi timnas Nigeria. Hukuman berat langsung dijatuhkan kepada Nigeria setelah gagal lolos dari penyisihan grup Piala Dunia 2010. Presiden Goodluck Jonathan mengancam menjatuhkan larangan tampil di turnamen internasional selama dua tahun. Tak hanya itu. Pimpinan Federasi Sepakbola Nigeria (NFF) harus menerima kenyataan mengalami pemecatan. Dengan adanya larangan tampil, federasi diharapkan bisa melakukan pembenahan. Apalagi, pimpinan federasi mengalami pergantian. Repotnya, campur tangan pemerintah berbuntut panjang. FIFA mengeluarkan ancaman menjatuhkan sanksi kepada NFF karena telah diintervensi pemerintah. Pasalnya, FIFA memangtidak menghendaki pemerintah ikut campur urusan federasi masing-masing negara.  
Namun, FIFA mengirim delegasi lebih dulu untuk menjadi mediator pemerintah dengan NFF. Delegasi dipimpin oleh pejabat paling senior di federasi, Amos Adamu. Mediasi tersebut akhirnya membuahkan hasil. Presiden Jonathan mencabut sanksi yang dijatuhkan hanya satu jam dari batas waktu yang diminta FIFA. Meski demikian, presiden mengajukan syarat FIFA harus menerima pencopotan pimpinan federasi dan dilakukan pemilihan yang transparan. Pejabat tinggi NFF juga harus diaudit keuangannya karena federasi disebut-sebut sebagai sarang korupsi. Bagaimana dengan The Super Eagles sendiri tak lama setelah mendarat di Lagos? Mereka mendapat pengawalan ketat dari petugas kepolisian dan penjaga keamanan. Petugas melindungi para pemain agar tidak menjadi sasaran kekecewaan suporter. Selandia Baru: Disambut Barikade Pemadam Suasana berbeda dirasakan tim Selandia Baru. Meski sama-sama tersingkir di babak awal, The All Whites mendapat sambutan luar biasa. Saat pesawat yang membawa tim mendarat di bandara Auckland, dua mobil pemadam menyemprotkan air yang membentuk konfigurasi air mancur. Ini merupakan bentuk penghormatan yang hanya diberikan kepada 'pejabat atau orang penting, tim Olimpiade atau saat dilakukan inagurasi penerbangan'. Di terminal penyambutan sekitar 100 fans yang terdiri anak muda menyambut mereka. Seorang siswi SMU membentangkan plakat, 'Paston Saya Cinta Anda'. Mark Nelson Paston tak lain kiper Selandia Baru yang tampil gemilang sepanjang babak penyisihan. Terutama saat menghadapi Italia. Pantas bila Selandia Baru pulang dengan kebanggaan. Mereka tak terkalahkan dan nyaris mempermalukan Italia yang baru bisa mencetak gol untuk menyamakan kedudukan dari titik penalti. Argentina: Mereka Tetap Pahlawan Argentina sesungguhnya tak pantas tersingkir di 16 besar. Meski lawan yang mendepaknya tidak kalah tangguh, Jerman. Hanya, Albiceleste kalah mencolok 4-1. Ini jelas kekalahan yang memalukan. Saking takutnya menjadi sasaran kekecewaan fans, tim Argentina memilih tiba di Buenos Aires di pagi hari saat warga masih terlelap. Bahkan area yang dilalui tim sudah ditutup dan 'dibersihkan' dari fans. Di luar dugaan, sambutan fans sungguh luar biasa. Ribuan suporter sudah memadati kantor pusat federasi sepakbola Argentina. Mereka mengelu-elukan pasukan Diego Maradona sebagai pahlawan. Sambutan yang mengejutkan sekaligus menegaskan posisi unik Maradona. Dia memang sosok tidak pernah salah di mata Argentina. Bahkan tak sedikit yang berharap Maradona dipertahankan sebagai pelatih timnas. Prancis: Audiensi Dengan Nicolas Sarkozy Lagi-lagi, pemerintah merasa perlu ikut campur dengan urusan sepakbola. Kali ini, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy yang meminta agar aksi mogok pemain di Piala Dunia diusut lebih lanjut. Pemain melakukan mogok latihan menjelang laga terakhir melawan Afrika Selatan sebagai aksi solidaritas terhadap rekannya Nicolas Anelka yang dipulangkan. Sudah melakukan aksi mogok, kalah lagi. Prancis meninggalkan Afsel dengan kepala tertunduk. Tentu tak ada sambutan meriah dari fans. Bila perlu, mereka tiba secara diam-diam dan mendarat di Bourget, bandara kecil di luar kota Paris. Mereka tiba dengan pengawalan ketat dari kepolisian. Thierry Henry meminta audiensi dengan presiden untuk menyampaikan peristiwa yang terjadi. Namun, ia datang ke Elysee Palace dengan menyelinap lewat pintu samping. Mundurnya presiden federasi sepakbola Prancis dan pelatih Raymond Domenech setidaknya menyelamatkan muka timnas. Italia: Tak Ada Lagi Lemparan Tomat Tak ada lemparan tomat busuk yang menyambut kedatangan tim Italia. Berbeda saat tim Azzurri harus menjadi sasaran kemarahan suporter menyusul kegagalan memalukan di Piala Dunia 1966. Saat itu, Italia dipermalukan tim gurem Korea Utara. Padahal, nasib Italia di Afrika Selatan tak jauh berbeda. Gagal menang dari tim lemah Selandia Baru dan menduduki peringkat paling buncit sehingga tersingkir di babak penyisihan. Ironisnya, mereka berstatus juara bertahan. Saat mendarat di bandara Fiumicino, Roma, mereka sungguh beruntung karena hanya disambut sekelompok kecil yang sekadar melontarkan makian. "Memalukan," teriak mereka. Kapten Fabio Cannavaro yang mengenakan kacamata hitam hanya diam saja tak bereaksi saat mendorong troli. Sementara Fabio Quagliarella hanya berucap, "Banyak yang kecewa. Jadi bisa dipahami [reaksinya]." Jepang: Pahlawan Kami Okada Kisah Jepang yang berakhir sukses. Jepang terpaksa gagal melaju ke perempat-final setelah kalah dalam adu penalti melawan Paraguay. Namun kegagalan itu tak membuat The Blue Samurai pulang dengan kepala tertunduk. Mereka disambut bak pahlawan. Bagaimana tidak. Tim asuhan Takeshi Okada untuk pertama kalinya berhasil melewati babak penyisihan grup di Piala Dunia yang di luar Jepang. Tak heran bila kedatangan mereka di bandara Kansai disambut tidak kurang 4.000 suporter yang tiada hentinya mengelu-elukannya. Nyaris semua suporter mengenakan kostum warna biru. Pelatih Okada menjadi pusat perhatian. Suporter memasang banner, 'Okada, Kebanggaan Jepang' dan 'Pahlawan Kami Okada'. Okada menanggapinya dengan meminta maaf karena Jepang gagal melangkah lebih jauh. Inggris: Tak Ada lagi Gembar-Gembor Shaun Wright-Phillips masih tampak mengantuk, Frank Lampard membawa cindera mata vuvuzela saat tim Inggris tiba di bandara Heathrow di hari yang masih pagi. Diiringi senyum pramugari, mereka keluar dari pesawat. Fans terpaksa melihat mereka dari jarak jauh. Demikian pula fotografer yang ingin mengabadikan kedatangannya. Hari-hari selanjutnya, para pemain kembali mulai kucing-kucingan dengan paparazzi. Tabloid tentu berharap mereka bisa bercerita tentang kegagalan The Three Lions di Piala Dunia. Pasalnya, penampilan Inggris memang memalukan. Mereka hanya mampu bertahan sampai 16 besar sebelum dihentikan Jerman dengan skor telak 4-1. Wayne Rooney menghilang dengan berlibur bersama keluarga. Yang lain masih berani muncul di depan umum dengan makan  di restoran, menghadiri pesta dan terlihat tersenyum. Hanya tak ada lagi gembar-gembor. Manajer Fabio Capello yang sempat terancam pemecatan memilih untuk fokus di kualifikasi Piala Eropa 2012. Ia kembali merebut simpati karena akan membuang pemain veteran dan memanggil pemain muda. Brasil: Dunga Dan Melo Jadi Sasaran Kasihan Felipe Melo yang menjadi sasaran kemarahan saat pulang ke Brasil. Bahkan petugas keamananharus menyibak jalan agar dia bisa lewat saat tiba di Rio de Janeiro. Melo paling dihujat karena sundulannya justru meneruskan bola Wesley Sneijder ke gawang sendiri saat melawan Belanda di perempat-final. Parahnya, ia melakuan kesalahan dengan menginjak kaki Arjen Robben. Lengkap sudah kepedihan gelandang Juventus ini. Tak hanya dirinya. Pelatih Dunga juga menjadi korban kekecewaan. Ia dianggap paling bertanggung jawab atas kegagalan Brasil dan langsung dicopot. Slovenia: Tetap Dijamu Presiden Tim paling muda di Afrika Selatan karena Slovenia baru merdeka dari Yugoslavia pada 1991. Meski demikian, mereka tampil heroik. Namun, nasib Slovenia berakhir tragis. Kekalahan 1-0 dari Inggris sesungguhnya tak berpengaruh seandainya Landon Donovan tidak mencetak gol di menit terakhir yang menjadikan Amerika Serikat unggul 1-0 saat menghadapi Aljazair. Gol tunggal Donovan membawa AS ke 16 besar bersama Inggris. Saat tiba di Ljubljana, mereka disambut meriah. Lebih dari 2.000 suoporter dengan setia menunggu kedatangan mereka di bandara.   Sementara, tidak kurang 10.000 suporter menunggu para pemain yang dijamu resmi oleh presiden. Korea Utara: Siaga Penuh,  Tanpa Sambutan Pelatih Kim Jong Hun pernah berujar, timnya akan pulang dengan disambut pasukan yang bersenjata terbuka alias bersiaga penuh. Artinya, petugas keamanan akan melindungi tim secara ketat karena banyak suporter yang menunggu untuk menyambut mereka. Pasalnya, Kim sangat optimistis dengan kemampuannya tim. Kenyataannya, Korut tiga kali menelan kekalahan. Bahkan mereka dibantai Portugal 7-0. Ini merupakan kekalahan terbesar sepanjang Piala Dunia 2010. Korut finis di peringkat terbawah. Saat tiba di Pyongyang, mereka memang disambut dengan pasukan yang bersiaga penuh. Namun tidak ada massa yang dikerahkan yang menyambut mereka. Kontras saat mereka berangkat ke Afrika Selatan. Mereka diantar oleh ribuan suporter seperti saat tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia 1966.


sumberhttp://id.news.yahoo.com/goal/20100706/tsp-spesial-bagaimana-sambutan-tim-tim-y-d1c8725_1.html
 


Comments




Leave a Reply

    About Anto D. GembelZ...?!!

    hiooooohohohohohoooo.....
    emmmmm.......z cuma mempuyai 1 kekurangan, z rasa kalian jga suah tau apa itu. tpi biar lebih jelas, kekurangan z adalah tidak memiliki kelebihan...hahahahaahaaaa......
    ^_^

    Archives

    August 2010
    July 2010
    June 2010
    May 2010

    Categories

    All
    Ilustrasi
    Iptek
    News
    Pelajaran
    Renungan
    Subtitle
    Tips N Trik

    RSS Feed

    Web Hosting

http://sambak-q.blogspot.com/ http://renunganku-spiritku.blogspot.com/